Wat Bersejarah di Ayutthaya dan Sukhothai, Sisi Thailand yang Lebih Sepi

Sebagian besar perjalanan ke Thailand berhenti di Bangkok, pantai selatan, atau Chiang Mai. slot gacor Padahal di antara kota-kota itu terdapat dua bekas ibu kota kerajaan yang menyimpan reruntuhan berusia ratusan tahun dengan suasana yang jauh lebih lengang. Ayutthaya dan Sukhothai menawarkan bentuk perjalanan yang berbeda, lebih pelan dan lebih banyak berjalan kaki di antara batu bata tua.

Ayutthaya yang Dekat dari Bangkok

Ayutthaya terletak sekitar delapan puluh kilometer di utara Bangkok dan bisa dicapai dalam waktu satu setengah sampai dua jam dengan kereta api dari Stasiun Krung Thep Aphiwat. Kereta ekonomi berharga sangat murah, sementara minibus dari Terminal Mo Chit menawarkan waktu tempuh yang lebih pendek.

Kota ini pernah menjadi pusat kerajaan besar selama lebih dari empat abad sebelum dihancurkan pada abad kedelapan belas. Yang tersisa adalah kompleks kuil dengan stupa dan dinding bata merah yang sebagian masih berdiri tegak.

Wat Mahathat adalah yang paling dikenal karena kepala arca Buddha yang terjerat akar pohon beringin. Wat Chaiwatthanaram di tepi sungai punya susunan menara yang paling utuh dan menjadi tempat favorit menjelang matahari terbenam. Wat Phra Si Sanphet dengan tiga stupa besar berjajar dulunya berada di dalam kompleks istana.

Cara Berkeliling Ayutthaya

Situs-situsnya tersebar dan jaraknya terlalu jauh untuk dijalani seluruhnya dengan berjalan kaki. Menyewa sepeda adalah pilihan yang paling banyak dipakai karena medannya datar, meski panas siang hari bisa cukup menyiksa.

Tuk tuk bisa disewa per jam dengan tarif yang dinegosiasikan di awal. Ada pula perahu yang mengelilingi beberapa kuil di tepi sungai, biasanya berangkat sore hari.

Sebagian besar kompleks utama mengenakan tiket masuk terpisah, dan tersedia tiket terusan yang mencakup beberapa lokasi sekaligus.

Sukhothai yang Lebih Tua dan Lebih Tenang

Sukhothai berjarak jauh lebih ke utara, sekitar enam sampai tujuh jam berkendara dari Bangkok. Karena letaknya, jumlah pengunjungnya jauh lebih sedikit, dan itu justru menjadi daya tariknya.

Taman sejarahnya tertata rapi dengan rumput terpangkas, kolam teratai, dan jalur sepeda yang nyaman. Wat Mahathat di zona tengah menjadi bangunan utama dengan barisan tiang batu dan arca besar di tengahnya. Wat Si Chum menyimpan arca Buddha raksasa di dalam ruang sempit sehingga wajahnya terlihat lewat celah dinding, sebuah pemandangan yang sulit dilupakan.

Zona utara dan barat lebih sepi lagi dan membutuhkan tiket terpisah. Wat Saphan Hin di atas bukit kecil di zona barat memerlukan pendakian singkat lewat jalur batu.

Waktu Berkunjung dan Persiapan

Musim kemarau antara November sampai Februari paling nyaman untuk berjalan di area terbuka. Maret sampai Mei sangat panas, dan sebagian besar situs hampir tidak punya peneduh.

Datang pagi sebelum pukul sembilan atau sore setelah pukul empat membuat pengalaman jauh lebih menyenangkan sekaligus memberi cahaya yang lebih baik untuk foto. Karena keduanya adalah tempat ibadah, pakaian yang menutup bahu dan lutut tetap diperlukan.

Loy Krathong di Sukhothai punya perayaan yang terkenal karena diadakan di antara reruntuhan yang disinari cahaya, tapi penginapan biasanya penuh jauh sebelum tanggalnya.

Kesimpulan

Ayutthaya dan Sukhothai memberi gambaran tentang Thailand yang berbeda dari citra pantai dan pusat perbelanjaan. Keduanya menuntut kesabaran karena daya tariknya terletak pada detail bangunan dan suasana, bukan pada hiburan yang serba tersedia. Bagi yang punya waktu beberapa hari di luar rencana utama, salah satu dari keduanya cukup untuk mengubah ritme perjalanan menjadi jauh lebih tenang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *